Ekspetasi Dan Realita Nikah Muda

Ekspetasi Dan Realita Nikah Muda




Nikah muda memang bukan hal yang baru di Indonesia, terlepas dari kampanye agamis Nikah untuk menghindari zina, sejak lama nikah muda juga sudah banyak dilakukan di indonesia. Jika anda tinggal di pedesaan pasti bukan hal tabu jika seorang anak setelah lulus SMA atau SMP dinikahkan oleh orang tuanya. Alasannya juga beragam, ada yang karena sudah hamil duluan, ada yang dijodohkan dengan anak orang kaya, atau ada juga yang ingin meringankan beban orang tua
Lho? Kok bisa?
Ya bisa! Dengan menikahkan anaknya berarti lebih sedikit mulut yang harus di beri makan. Ini akan "meringankan" beban orang tua. Setidaknya begitulah kata mereka.
Kalau bicara ekspektasi, sayapun juga memiliki ekspektasi tentang seperti apa itu menikah. Meskipun umur saya sudah 20an, ekspektasi saya tentang menikah mungkin terkesan klise seperti bisa berjalan berdua bareng, ke mana-mana berdua, melewati masa senang dan masa sedih bersama seperti banyak komik couple yang beredar di internet. Dan yang pasti melampiaskan kebutuhan biologis secara halal seperti yang diajarkan oleh agama yang saya anut.
Yaah, mungkin ekspektasi saya tentang menikah bisa digambarkan oleh postingan-postingan komik couple di Instagram dan poster poster kampanye Indonesia tanpa pacaran. Pokoknya yang indah-indah lah! Tapi saya juga paham bahwa menikah bukan hanya sekedar tentang itu. Menikah bukan hanya sekedar untuk melampiaskan urusan selangkangan. Banyak hal lain yang harus dipersiapkan karena menikah bukanlah untuk 1–2 hari saja.
Saya punya banyak cerita tentang orang-orang di sekitar saya serta dari apa yang saya baca, lihat dan dengar dari yang memutuskan untuk menikah muda dan bagaimana kehidupan mereka sekarang.
  • Saya memiliki tetangga yang anaknya dinikahkan saat usia SMP. Sekarang kehidupannya bisa dibilang sangat memprihatinkan. Dia menjadi korban KDRT suaminya. Suaminya yang notabene masih muda masih ingin bermain dengan bebas sehingga kerjaannya hanya nongkrong, ngopi dan berseliweran kesana kemari. Dia tidak dinafkahi oleh suaminya sehingga dia pulang kembali ke rumah orang tuanya.
  • Teman saya semasa SD setelah lulus SD dinikahkan oleh orang tuanya untuk meringankan beban orang tuanya. Sekarang kehidupan mereka baik-baik saja dan sudah memiliki anak dua kalau saya tidak salah. Meskipun bisa dikatakan dia dan suaminya hidup dibawah garis kemiskinan.
  • Saya memiliki adik tingkat saat kuliah. Wajahnya sangat tampan mungkin khas artis Korea. Sudah sejak SMA dia suka kepada seseorang. Keluarga mereka sudah bertemu dan sepakat untuk berkomitmen nanti anaknya akan dinikahkan. Dia akhirnya menikah dengan orang yang disukainya ini bahkan sebelum lulus kuliah. Kehidupannya setelah itu saya rasa cukup baik. Setelah menikah masing-masing tetap melanjutkan kuliahnya dan sekarang sudah sama-sama lulus sekarang dia bekerja di salah satu perusahaan dan menjalankan CV peninggalan ayahnya memborong kecil-kecilan.
  • Mungkin berita ini juga sudah Anda dengar. Ada seorang Hafiz menikah dengan anak pengacara yang akhirnya setelah beberapa bulan memutuskan untuk bercerai. Usut punya usut mereka bercerai karena pertengkaran kecil dan sama-sama menggunakan egonya dan tidak ada yang mau mengalah.
  • Saya pernah membaca salah satu jawaban di quora tentang kisah si penulis yang menikah muda dengan pasangannya saat masih sama-sama kuliah dan mereka akhirnya sukses bahkan memiliki bisnis sendiri.
Sangat beragam sekali bukan?
Sedangkan dari yang pro dan kontra tentang ini menurut saya memiliki flaw-nya masing-masing dalam argumentasinya
Yang penggiat nikah muda karena agama lupa bahwa menikah itu bukan hanya urusan pelampiasan nafsu saja. Masih banyak hal lain dalam pernikahan. Seperti bagaimana memanajemen keuangan, mengontrol emosi dan banyak hal lainnya. Mereka tidak mencantumkan hal itu dalam jualannya. Seakan-akan menafikan fakta bahwa ada yang gagal juga.
Tapi
Mereka yang menentang gerakan ini juga lupa bahwa dalam rumah tangga meskipun anda menikah umur berapa pun pasti akan dihadapkan dengan masalah juga di dalam pernikahan. Entah itu masalah ekonomi atau masalah yang lainnya. Jadi seakan-akan jika ada permasalahan yang terjadi di pernikahan yang disalahkan nikah mudanya. Padahal permasalahan itu juga bisa dan mungkin terjadi di umur berapapun kita menikah. Dan dari argumentasi yang saya baca dan lihat juga seakan-akan menafikan fakta bahwa juga ada yang berhasil dalam menikah muda.
Yang satu prinsipnya
Leeeeerrooooy Jeeennkiiiiiinn!!!!!
Sedangkan yang satunya berprinsip
What if? What if? What if?
Jadi kalau menurut saya, jangan telan mentah-mentah cerita atau pengalaman yang anda lihat, dengar dan baca. Apalagi menjadikannya pembenaran argumentasi salah satu pihak. Cukup jadikan cerita yang anda dengar sebagai pembelajaran, ambil yang baiknya (misal dedikasinya, komitmennya dll) dan buang yang buruknya.
Saya pribadi sebenarnya juga masih " what if, what if" tapi juga tidak militan menentang yang menikah muda. Soalnya, seperti yang saya lihat dari sekitar saya (yang saya ceritakan diatas) jalan hidup orang itu sangat unik. Kita tidak bisa menghakimi orang itu hanya dari salah satu pilihan hidupnya. Jadi mungkin posisi saya lebih ke tengah-tengah.
"What if, what if yang Leeerrooy Jenkins 😂".

Jadi, jika ditanya syarat minimum menikah menurut saya :
  • Minimal punya kerja atau penghasilan untuk mencukupi kebutuhan primer
  • Memiliki visi dan misi yang sama
  • Ada calonnya (yanggak mblo?)
Itu adalah minimum requirement kalo menurut saya. Paling tidak anda sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dulu. Karena bayi yang lapar tidak akan mau tau anda punya uang untuk beli susu atau tidak.

Menikahlah ketika anda siap. Plan it well and Don't rush it

You may like these posts